@mutiachessar, Dutch Literature Universitas Indonesia.
Sweet . Shy . and not normal.
@mutiachessar
FB : Mutia Chessar
Theme by Caroline Tucker.
Powered by Tumblr.
Pernahkah kau melangkah lugu menuju api?
Kau pikir cinta tenyata dusta.
Oh.
Sedang kau lakukan.
Malam ini (saya) saksinya.
Ada manusia kerdil mengais pasir dari balik batu karang.
Tatapnya tajam setajam parang.
Laparnya menjadi jadi
Saksi (saya) malam ini.
Seorang perempuan menimba air di sumur berlumut.
Sorot matanya kalut kemelut.
Lalu lelaki jahanam datang menarik kasar kainnya.
Menjamah nafsu tubuhnya.
Saya saksi (malam)nya.
Malam bersaksi begitu sempurna.
Menyorot tepat di empedu.
(Tidak) sempurnakah sadarmu?
Empedu malam ini saksinya.
Lalu saya ini apa?
Pilu.
Ada sebuah cerita.
Hanya sebuah cerita.
….
Aku menyukaimu.
Sangat.
Menginginkanmu.
Sangat.
Mungkin nanti akan mencintaimu.
Sangat.
Sungguh, cerita bohong diatas saya tulis dengan jujur. Percayalah, kalian tidak perlu percaya.
Tidak mengerti? Hahaha mengertilah, kalian sudah terlalu sering pura-pura mengerti.
Sekali sekali tidak pura-pura toh tidak dosa :))
Hahaha nah sekarang kalian pura pura tidak mengerti.
Lucu sekali kalian ini.
Eh tapi untuk si Sangat, aku rindu mengobrol denganmu. Kalau ini tidak bohong. Hihihi :))
Diam memang (katanya) emas.
Tapi bukan berarti selamat.
Lalu saya menulis.
Tidak tau apa yang mau ditulis.
Tapi ingin menulis.
Ingin memang terkadang tidak bisa kompromi.
Maka menulis lah saya.
Bicara tentang apa kita?
Oh bukan kita, mungkin hanya saya.
Tahu tidak?
Baru ini saya sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang saya tulis.
Sedang kacau atau bagaimana?
Ah tidak.
Mungkin buntu.
Ck, tidak juga.
Bukalah matamu.
:)
Hmm baiklah, dengar. Saya ingin bicara sesuatu.
” Suatu hari nanti, ketika kita sarapan di meja makan yang sama, rindu malam ini akan menjadi lelucon mengharukan ”
Selamat malam, Tu(h)an. :))
My Inspiration.
Nocturne No. 20 in C sharp minor - Chopin
Kepada pujangga di seberang sana.
Kau undang khayalku ke pangkuanmu.
Membiarkan puisi ku berlabuh di ragamu.
Dan rinduku
terdampar di tatapmu.
Sosok adam semacam apa itu.
Bagaimana bisa sesempurna surga.
Menjamah damba manusia.
Tanpa logika
Bahkan tanpa suara.
Wahai perantara surga.
Puisikan aku dalam puisimu.
Rasaku,
tersirat menginginkanmu.
• Seperti menulis di pasir halus tepi pantai, baru selesai kata terangkai lalu langsung hilang disapu sisa ombak. Begitulah.
- makanya bikin benteng pasir. Biar kata2nya tak tersapu ombak.
• Percuma dibentengi, ombaknya lebih kuat.
- pindahkan saja pasirnya. Biar aman. Biar ombak mengejar lebih jauh.
Dialog pendek ini di sponsori oleh @aids_106 via twitter 15 Juli 2012.
Pendek, random, tidak disengaja, bermaksud becanda, tapi cukup membuat saya berkata dalam hati…. “Benar juga”.
” Diri ini merapuh
Tanpa sakit tanpa kecewa
Terjatuh tanpa tangis tanpa luka..
Kau pergi tanpa pesan tanpa tanya
Menghilang tanpa tanda
Tanpa jejak terbang tanpa sayap
Tanpa angin..
Pesonamu hancur tanpa debu
Tanpa sepi
Diam tanpa desah
Tanpa pandang
Tersesat tanpa jalan
Tanpa ingin.. “
- Lagu ini diciptakan dan dinyanyikan oleh @teaterpagupon FIB UI.
Berjudul ” kehilangan ” .
Buat saya, lagu ini bukan untuk seorang cinta. Buat saya, lagu ini untuk dia.
Dia yang karenanya saya ada.
Dia yang nyata namun tak mampu saya sentuh
Yang tak pernah luluh.
Dia yang hilang kemana entah..
Dia seseorang yang seharusnya saya sebut, ayah.
Kepada aku yang sedang mengagumi.
Sesaat penasaran sesaat ingin pergi.
Menanggapi kehadiranmu yang semakin lama semakin sepi.
Sesaat datang sebagai pelipur.
Lalu semakin hilang seperti bilur.
Aku, kabur.
note: ide = @irasaridewa (yg meminta saya menulis ttg ayam kalasan)
Seperti puisi ku yang tak mampu dimengerti akhir akhir ini, ada sisi yang tak jelas pula dari sendi rasaku seperti ingin kan kau yang tersirat ingin kan ku. Kembali ke diriku yang sedang mendamba angin, dipermainkan pelantun angin, menjadi bagian dari angin, hatiku lagi lagi bermain. Tanda bahaya.
Pagi ini.
Di antara ramai aku mencari.
Adakah sepasang itu diantara banyak.
Cermin mata adam di pelangi senja.
Yang dengannya anginku mendamba.
Yang tanpanya inginku terasa.
Pagi ini,
Tanpa warna.
Siang ini.
Matahari masih dengan terik di segala.
Masih ramai dengan segala tanya,
Dimana dia?
Malam ini.
Dambaku mengerangka.
Memang senja sementara saja.
Asaku sirna.
Pagi ini.
Di antara ramai aku mencari.
Adakah sepasang itu diantara banyak.
Cermin adam di pelangi senja.
Yang dengannya anginku mendamba.
Yang tanpanya inginku terasa.
Pagi ini,
Tak berwarna.

Purple :*