Aku dan Petir Malam Ini.
Rabu, dua mei.
Setengah sepuluh.
Aku duduk bertopang dagu didepan kaca ditemani alunan musik perayu sendu.
Aku benci gemuruh petir diluar sana.
Ramai sekali.
Seperti menertawakan aku yang duduk tanpa teman.
Dingin.
Aku merindukan dekapan.
Merindukan usapan.
Yang biasanya ada saat petir petir itu mengganggu tenangku.
Yang biasanya ada untuk meredam tetesku.
Sekarang tidak ada lagi yang biasanya.
Maka kubiarkan petir menertawakanku.
Tidak apa apa.
Kali ini dia menang.
Silahkan hantam aku dengan kencang gemuruhmu,
Silahkan tertawa bersama deras hujanmu.
Tapi aku mohon satu,
Jangan undang air mataku.

